Memilih Pelumas yang Baik dan Benar

Pelumas adalah bahan penting bagi kendaraan bermotor. Memilih dan menggunakan pelumas yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor anda, merupakan langkah tepat untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan. Umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain yang tak kalah penting, yakni antara lain sebagai; Pendingin, Pelindung dari Karat, Pembersih dan Penutup Celah pada Dinding Mesin.

Semua Fungsi tersebut adalah sangat erat berkaitan; sebagai Pelumas, Oli akan membuat gesekan antar komponen di dalam mesin bergerak lebih halus, sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal. Selain itu Oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat Celcius ke bagian lain mesin yang lebih dingin.

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun disisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli.

Oleh sebab itu, peruntukkan bagi mesin kendaraan Baru (dan/atau relatif Baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan untuk menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi.

Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder guna melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Disamping itu pula kandungan aditif deterjen dalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat pergantian oli.

SPESIFIKASI OLI

Semakin banyaknya pilihan oli saat ini, tidak semestinya membuat bingung. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan Acuan; antara lain, kenali karakter kendaraan anda (spesifikasi mesin serta lingkungan dimana mayoritas anda berkendara (suhu, kelembaban udara, debu, dsbnya.).

Tingkat kekentalan oli yang juga disebut “VISKOSITY-GRADE” adalah ukuran kekentalan dan kemampuan pelumas untuk mengalir pada temperatur tertentu menjadi prioritas terpenting dalam memilih Oli. Kode pengenal Oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers. Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. SAE 40 atau SAE 15W-50, semakin besar angka yang mengikuti Kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut. Sedangkan huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun. Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada kisaran angka kekentalan 40-50 menurut standar SAE.

Mutu dari oli sendiri ditunjukkan oleh kode API (American Petroleum Institute) dengan diikuti oleh tingkatan huruf dibelakangnya. API: SL, kode S (Spark) menandakan pelumas mesin untuk bensin. Kode huruf kedua mununjukkan nilai mutu oli, semakin mendekati huruf Z mutu oli semakin baik dalam melapisi komponen dengan lapisan film dan semakin sesuai dengan kebutuhan mesin modern.

§ SF/SG/SH – untuk jenis mesin kendaraan produksi (1980-1996)

§ SJ – untuk jenis mesin kendaraan produksi (1996 – 2001)

§ SL – untuk jenis mesin kendaraan produksi (2001 – 2004)

Perhatikan peruntukan pelumas, apakah digunakan untuk pelumas mesin bensin, atau diesel, atau motor 2 tak atau 4 tak, peralatan industri, dan sebagainya. Untuk memilih kualitas pelumas yang cocok, kita dapat mengacu pada API Service (American Petroleum Institute), JASO (Japan Automotive Standard Association), ACEA (Association Des ConstructeursEuropeens d’ Automobiles), DIN (Deutsche Industrie Norm), dan lain-lain yaitu acuan untuk kerja (performance) pelumasberdasarkan standar yang dikeluarkan oleh lembaga independen industri pelumas international.

Semua oli baik mineral maupun synthetic sama-sama ada standar APInya. Oli mineral biasanya dibuat dari hasil penyulingan sedangkan oli synthetic dari hasil campuran kimia. Bahan oli synthectic biasanya PAO (PolyAlphaOlefin). Jadi oli Mineral API SL kualitasnya tidak sama dengan oli Synthetic API SL. Oli synthetic biasanya disarankan untuk mesin2 berteknologi terbaru (turbo, supercharger, dohc, dsbnya) juga yang membutuhkan pelumasan yang lebih baik (racing) dimana celah antar part/logam lebih kecil/sempit/presisi dimana hanya oli synthetic yang bisa melapisi dan mengalir sempurna. Oli synthetic tidak disarankan untuk mesin yang berteknologi lama dimana celah antar part biasanya sangat besar/renggang sehingga bila menggunakan oli synthetic biasanya menjadi lebih boros karena oli ikut masuk keruang pembakaran dan ikut terbakar sehingga oli cepat habis dan knalpot agak ngebul.

Berikut beberapa keunggulan oli synthetic dibandingkan oli mineral :

§ Lebih stabil pada temperatur tinggi

§ Mengontrol/Mencegah terjadinya endapan karbon pada mesin

§ Sirkulasi lebih lancar pada waktu start pagi hari/cuaca dingin

§ Melumasi dan melapisi metal lebih baik dan mencegah terjadi gesekan antar logam yang berakibat kerusakan mesin

§ Tahan terhadapan perubahan/oksidasi sehingga lebih tahan lama sehingga lebih ekonomis dan efisien

§ Mengurangi terjadinya gesekan, meningkatkan tenaga dan mesin lebih dingin

§ Mengandung detergen yang lebih baik untuk membersihkan mesin dari kerak

Jadi untuk mesin yang diproduksi tahun 2001 keatas disarankan sudah menggunakan oli yang bertipe synthetic baik semi synthetic (campuran dengan mineral oil) atau fully-synthetic.

Note: Kalau untuk pemakaian sehari-hari cukup yang semi synthetic.

Oli yang bagus (biasanya synthetic) mampu memberikan lapisan film tipis yang pada komponen metal yang bergerak yang mana berguna untuk mengurangi gesekan komponen metal sehingga suara mesin jadi lebih halus dan tarikan lebih mantap.

Pada intinya milih oli hampir sama dengan milih bini (cocok2an) tapi ada garis besarnya yang bisa di-ikuti :

§ Disarankan jangan menggunakan oli untuk mobil ke motor anda sebab ada bahan di-oli mobil yang harus dikurangi bahkan dihilangkan tetapi di motor harus agak banyak untuk meredam gesekan karena putaran mesin motor lebih tinggi dan lebih berat kerjanya.

§ Motor tahun 2001 keatas disarankan menggunakan Oli API SG keatas misal API SH/SJ atau SL. SAE bisa 20w50 atau 10w40. Usahakan yang Semi Sintetik karena lebih licin sehingga bisa masuk kecelah2 metal mesin yang sempit dan tahan

oksidasi sehingga kualitas oli tidak gampang rusak dan mesin jadi lebih bersih dan tentunya tarikan jadi lebih mantap.

Disarankan juga untuk menggunakan Pelumas yang memiliki dan mencantumkan Nomor Pelumas Terdaftar Untuk melindungi kepentingan masyarakat atas mutu pelumas yang beredar di dalam negeri pelumas sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1693.K/34/MEM/2001 tanggal 22 Juni 2002. Pelumas yang memiliki NPT adalah pelumas yang telah memenuhi persyaratan administratif dan teknis serta lulus uji laboraturium terakreditasi yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal MIGAS. NPT dapat diidentifikasikan dengan 12 digit huruf dan angka Contoh :

DEPTAMBEN RI NPT : AB25E4110199 atau DESDM RI NPT : AC66E1054104.

MITOS

Minimnya pengetahuan tentang perkembangan teknologi pelumas, menyebabkan timbulnya banyak mitos di masyarakat.

Sebagai contoh, saat mengganti oli mesin … oli bekas berwarna hitam … sering dianggap oli berkualitas buruk. Padahal justru sebaliknya, perubahan warna oli menandakan bahwa oli telah bekerja dengan baik sebagai pelarut kotoran. Selanjutnya kotoran akan terbawa keluar pada saat pergantian oli dilakukan, karenanya dinding mesin akan terbebas dari kerak.

Dilain pihak, apabila perubahan warna tersebut terjadi dalam kurun waktu yang sangat dekat (terhitung sejak saat pergantian pertama), itu menandakan kemungkinan adanya kerusakan komponen didalam mesin sehingga oli cepat teroksidasi. Kita jangan bingung2, pake aja oli yang bagus (mungkin harus 2-4 kali coba baru dapet, kayak pacaran aja kalau cocok jadi bini).

Kalau dilihat dibuku petunjuk motor hampir tidak disebutkan merk oli dan yang disebutkan hanya API SG 20w50 atau yang lebih baik. Jadi kalau anda pakai oli yang lebih baik kenapa takut garansi batal?

Coba tanya ke staff mekanik beres tentang hal ini, apa jawaban mereka?

Untuk mencoba oli baru, bisa ikuti prosedur berikut :

§ Sebelum ganti oli, coba bersihkan saluran bahan bakar dan kerak yang mungkin ada di mesin. Tidak usah bingung, bisapakai carburator cleaner yang dituang ke tangki misal merk STP. Lakukan tiga hari sebelum ganti oli dan motor dipakai seperti biasa dan kalau bisa kecepatan agak tinggi, ini untuk membersihkan saluran bahan bakar dan endapan karbon.

§ Ganti oli dengan oli baru yang sesuai (jangan lupa ada JASO MA) termasuk filter olinya. Lakukan penggantian oli pada kondisi mesin panas agar oli lama keluar semua.

§ Coba deh pakai selama seminggu ada perubahan yang enak gak? kalau nggak berarti olinya tidak cocok. Perubahannya :

– Suara mesin jadi lebih halus, tarikan lebih ringan, tenaga lebih mantap.

Oli merk apapun kalau sudah mendapat sertifikasi API (SG/SH/SJ/SL) dan JASO MA berarti oli itu sudah memenuhi standar baku yang cukup bagus dan memenuhi semua unsur yang diperlukan oleh mesin. Masalahnya banyak oli di Indonesia tidak ada ada sertifikasi tersebut. Coba lihat kemasan oli anda, kalau tidak ada sertifikasi tersebut apakah anda rela mesin anda menderita sengsara dan akhirnya turun mesin bahkan ganti mesin?

JANGAN KELIRU MEMILIH OLI MESIN

MINYAK pelumas atau oli tidak akan terpisahkan dengan mesin kendaraan bermotor. Tanpa oli, mesin rontok. Bila oli berkurang, komponen akan cepat aus akibat gesekan antara kedua permukaan komponen. Karena itu, kelangsungan hidup mesin amat dipengaruhi oleh oli. Makin besar kerja mesin, makin penting peran oli. Hal serupa juga terjadi pada sepeda motor, terutama di kota-kota besar, di mana lalu-lintas cenderung macet, ruwet, dan suhu kian panas. Mengingat penting dan peranannya, oli menjadi ladang bisnis menggiurkan paling tidak tiap 2.000 km sampai 5.000 km– oli harus diganti.

Berbagai merek dan jenis oli pun bermunculan di pasaran. Mulai dari oli biasa (konvensional) yang disebut pelumas mineral, sampai oli sintetis dan semi sintetis. Perbedaan ketiga jenis oli ini, bisa dilihat dari komponen dan unsur di dalamnya. Pelumas konvensional, umumnya terdiri atas 90% minyak dasar (crude oil), hasil penyulingan minyak bumi, ditambah 10% campuran bahan kimia aditif guna meningkatkan kinerjanya.

Bahan kimia yang dipakai sebagai campuran biasanya detergen (pembersih), antioksidasidan Index Viscosity Imorover (campuran peningkat kekentalan). Penggabungan unsur-unsur itu membentuk oli yang mampu melumasi mesin. Pelumas sintetis, sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan-bahan aditif. Jumlahnya menentukan jenis oli sintetisnya. Oli sintetis penuh (full synthetic oil) mengandung 100% bahan aditif, yaitu minyak dasar bahan kimia yang bukan dihasilkan dari penyulingan minyak bumi.

Sedangkan oli semi sintetis pelumas yang dibuat dengan menggunakan minyak dasar bahan kimia dicampur minyak mineral. Mengingat proses pengolahannya tidak lagi mengandalkan minyak dasar, bahan kimia yang banyak diaplikasi sebagai pengganti antara lain ester asam berbasa dua, ester organo fosfat, ester-silikat, glicol-polialkilena, silikon, klorida serta fluor hidrokarbon.

Klasifikasi oli sintetis tidak berbeda dengan oli biasa. Pelumas sintetis mempunyai jenis klasifikasi tingkat kekentalan tunggal (single grade), misalnya SAE 20, SAE 40 dan SAE 50. Ada juga jenis klasifikasi tingkat kekentalan jamak (multigrade) antara lain SAE 15W-50 atau SAE 20W-50.

Bahkan, pada aplikasi mobil balap atau mesin berteknologi mutakhir, tingkat kekentalannya sering dibuat sangat ekstrem, misalnya SAE 5W-50, SAE 10W-60. Mengingat oli sintetis memiliki banyak keunggulan dan proses pembuatannya lebih rumit dibanding oli biasa, harganya pun relatif mahal. Nah, untuk memilih oli yang pas, sesuaikan dengan kebutuhan mesin mobil Anda.

FUNGSI OLI

Umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain yang tak kalah penting, yakni antara lain sebagai; Pendingin, Pelindung dari Karat, Pembersih dan Penutup Celah pada Dinding Mesin.

Semua Fungsi tersebut adalah sangat erat berkaitan; sebagai Pelumas, Oli akan membuat gesekan antar komponen di dalam mesin bergerak lebih halus, sehingga memudahkan mesinuntuk mencapai suhu kerja yang ideal. Selain itu Oli jugabertindak sebagai fluida yangmemindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat Celcius ke bagian lainmesin yang lebih dingin.

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli,tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun disisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli.

Oleh sebab itu, peruntukkan bagi mesin kendaraan Baru (dan/atau relatif Baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan untuk menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh komponen mesinbaru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi.

Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder guna melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Disamping itu pula kandungan aditif deterjendalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat pergantian oli.

Dirangkum dari berbagai sumber dan ditulis kembali oleh : Tono Suganda

Advertisements

Tips Memilih Oli Pelumas yang Baik

OLI adalah penopang utama dari kerja sebuah mesin. Bukan itu saja, bahkan oli juga menentukan performa dan daya tahan mesin. Semakin baik kualitas oli yang digunakan, semakin baik pula performa dan daya tahan mesin. Fungsi oli bukan hanya sebagai pelumas saja, melainkan juga sebagai pendingin dan pembersih mesin. Sebagai pelumas, oli melumasi (lubricating) seluruh komponen yang bergerak di dalam mesin untuk mencegah terjadinya kontak langsung antarkomponen yang terbuat dari logam. Dalam hal ini, unsur kekentalan (viskositas) sangat penting.

Sebagai pendingin, oli juga harus mampu mengurangi panas yang ditimbulkan oleh gesekan antarlogam pada mesin yang bergerak, seperti klep (katup) atau bearing (laher).

Proses pembakaran di dalam dapur pacu mesin dapat menimbulkan oksidasi sehingga menghadirkan kerak dan korosi pada logam. Di sinilah, oli berfungsi untuk membersihkan bagian-bagian mesin dari oksidasi dan mencegah terjadinya karat di dalam mesin.

Melihat arti penting oli bagi performa dan daya tahan mesin, maka sebelum memilih oli, sebaiknya seseorang lebih dulu mengetahui secara jelas jenis mesin kendaraan yang digunakannya. Misalnya memperhatikan tahun pembuatan kendaraan dan sistem kerja mesin. Cara yang paling aman adalah mempelajari dari buku panduan (manual book) kendaraan untuk mengetahui jenis pelumas dan karakteristik seperti apa yang direkomendasikan oleh pabrik.

Dalam panduan yang dikeluarkan Agip, salah satu merek oli, disebutkan, pada setiap oli yang beredar di pasaran akan dijumpai dua istilah karakteristik oli, yakni SAE dan API. SAE adalah untuk menandai tingkat kekentalan (viskositas). Misalnya, SAE 20W-50. Huruf W berarti winter (musim dingin). Itu berarti dalam suhu dingin (pada musim dingin), kekentalan oli berada pada angka viskositas SAE 20. Sementara angka 50 berarti pada udara panas tingkat kekentalan oli akan berubah menjadi 50. Inilah yang disebut oli multigrade atau oli yang memiliki beberapa tingkat (grade) kekentalan. Sedangkan karakteristik oli monograde hanya memiliki satu tingkat kekentalan, misalnya SAE 40 dan SAE 50.

Adapun API (Automotive Petroleum Institute) adalah petunjuk bagi tingkatan mutu oli. Pada mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin biasanya diawali dengan huruf S (service station), misalnya SG atau SJ. Sementara untuk kendaraan yang menggunakan mesin diesel diawali dengan huruf C (commercial), misalnya CD atau CF.

Mesin kendaraan baru biasanya membutuhkan oli dengan grade tinggi, mengingat letak antara komponen yang satu dan yang lain sangat rapat, sehingga diperlukan oli yang dapat mengalir ke seluruh celah yang sempit. Pada mesin kendaraan keluaran lama, celahnya lebih luas.

ADA dua jenis oli, yakni mineral dan sintetis. Yang mineral adalah campuran antara minyak bumi yang ditambah zat aditif, sedangkan yang sintetis adalah minyak bumi yang melalui proses kimiawi diubah menjadi bahan sintetis. Bahan sintetis daya tahannya terhadap panas lebih tinggi sehingga oli tidak mudah rusak dan tahan lebih lama terhadap oksidasi. Sebab itu, harga oli sintetis lebih mahal daripada oli mineral.

Untuk kebutuhan biasa, tidak ada salahnya apabila menggunakan oli mineral mengingat harganya yang lebih murah daripada oli sintetis. Akan tetapi, untuk penggunaan ekstrem, seperti balap, mutlak menggunakan oli sintetis.

Melihat pentingnya arti oli bagi mesin, Manajer Pemasaran PT Bahana Nusa Lubrindo, Mico F Kaliki, selaku pemasar oli Agip di Indonesia, menyarankan agar konsumen membeli oli di bengkel, atau kios resmi, untuk mencegah penggunaan oli bekas, atau oli palsu.

Persoalan yang selalu menjadi pertanyaan konsumen adalah tiap berapa kilometer oli harus diganti. Mico mengatakan, sesungguhnya pertanyaan seperti itu sangat sulit untuk dijawab secara pasti mengingat masa pakai oli sangatlah tergantung kepada umur serta kondisi mesin kendaraan, dan juga kepada cara pemakaian, yakni ekstrem atau normal.

Namun, secara umum, menurut Mico, biasanya penggantian itu dilakukan setiap 7.500 kilometer pada oli mineral, sedangkan oli sintesis bisa sampai 10.000 kilometer, atau bahkan lebih. “Pada oli mineral, tingkat penguapannya cukup tinggi,” ujar Mico.

Menurut dia, pada mobil-mobil papan atas situasinya berbeda karena indikator di dashboard akan menentukan kapan oli mesin perlu diganti. Ada sensor di dalam mesin yang akan memberi tahu pengemudi kapan oli mesin harus diganti.

MENENTUKAN oli yang baik juga bukan pekerjaan yang mudah mengingat pasaran Indonesia kini dibanjiri oli dari merek-merek terkemuka dunia. Bardahl, salah satu produsen oli dan aditif terkemuka dunia, pun akan kembali hadir di Indonesia. Produk Bardahl akan dipasarkan secara eksklusif awal 2004 mendatang di jaringan-jaringan Astra Otopart di seluruh Indonesia.

Patokan umum yang dapat dipegang adalah, pertama, mengenali jenis mesin kendaraan. Kedua, mengikuti petunjuk SAE dan API oli yang direkomendasikan oleh buku panduan mobil. Ketiga, membeli pelumas di bengkel atau kios resmi untuk menghindari oli bekas atau oli palsu.

Sejak dikeluarkannya Keppres No 21/2001, yang mengakhiri monopoli Pertamina, muncullah berbagai merek oli terkemuka dunia di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya membuka pabrik di Indonesia. Selain menyediakan lebih banyak merek dan oli berkualitas di pasaran, Keppres itu juga memacu Pertamina untuk lebih meningkatkan kualitas oli yang diproduksinya.

Data terakhir yang dikeluarkan Asosiasi Produsen Pelumas di Indonesia (Aspelindo) memperlihatkan bahwa Pertamina masih menguasai 54 persen pangsa pasar, diikuti oleh Pennzoil dan Evalube (12 persen), Top 1 (11 persen), Castrol (5 persen), Shell dan Agip (3 persen), dan Motul (1 persen).

“Kami siap bersaing di pasaran dengan produk oli berteknologi tinggi, ramah lingkungan, dan harga terjangkau,” kata Mico F Kaliki. Ia menambahkan, saat ini, Agip menguasai tiga persen pangsa pasar oli di Indonesia. Ia yakin jumlah itu secara bertahap akan mengalami peningkatan seiring dengan meluasnya penggunaan oli Agip.

Agip (Azienda Generale Italiana Petroli), yang memulai kiprahnya pada tahun 1926, kini juga memiliki pabrik di Indonesia. Perusahaan oli, yang malang melintang di ajang lomba Formula 1 dan ajang lomba dunia lainnya, tersebut mengandalkan empat oli unggulannya di Indonesia, yakni Agip Sint 2000, Ekstra HTS, 2T Smokeless, dan Formula 2000. Agip 2T Smokeless adalah oli mesin dua tak (dua langkah) generasi terakhir yang asap buangnya sangat rendah.

Pengetahuan Umum Tentang Lubricating Oil (Minyak Pelumas)

Pendahuluan

Sistem pelumasan merupakan salah satu sistem utama pada mesin, yaitu suatu rangkaian alat-alat mulai dari tempat penyimpanan minyak pelumas, pompa oli (oil pump), pipa-pipa saluran minyak, dan pengaturan tekanan minyak pelumas agar sampai kepada bagian-bagian yang memerlukan pelumasan.

Sistem pelumasan ini memiliki beberapa fungsi dan tujuan, antara lain:

  • Mengurangi gesekan serta mencegah keausan dan panas, dengan cara yaitu oli membentuk suatu lapisan tipis (oil film) untuk mencegah kontak langsung permukaan logam dengan logam.
  • Sebagai media pendingin, yaitu dengan menyerap panas dari bagian-bagian yang mendapat pelumasan dan kemudian membawa serta memindahkannya pada sistem pendingin.
  • Sebagai bahan pembersih, yaitu dengan mengeluarkan kotoran pada bagian-bagian mesin.
  • Mencegah karat pada bagian-bagian mesin.
  • Mencegah terjadinya kebocoran gas hasil pembakaran.
  • Sebagai perantara oksidasi.

 

Pengertian

Pelumas dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang berada diantara dua permukaan yang bergerak secara relatif agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut.

Klasifikasi

Berdasarkan wujudnya, minyak pelumas dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu cair (liquid) atau biasa disebut oli, dan setengah padat (semi solid) atau biasa disebut gemuk.

Minyak pelumas cair (oli) dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal, yaitu:

  • Berdasarkan bahan pelumas itu dibuat

§ Pelumas mineral (pelikan) yang berasal dari minyak bumi. Mineral yang terbaik digunakan untuk pelumas mesin-mesin diesel otomotif, kapal, dan industri.

§ Pelumas nabati, yaitu yang terbuat dari bahan lemak binatang atau tumbuh-tumbuhan. Sifat penting yang dipunyai pelumas nabati ini ialah bebas sulfur atau belerang, tetapi tidak tahan suhu tinggi, sehingga untuk mendapatkan sifat gabungan yang baik biasanya sering dicampur dengan bahan pelumas yang berasal dari bahan minyak mineral, biasa disebut juga compound oil.

§ Pelumas sintetik, yaitu pelumas yang bukan berasal dari nabati ataupun mineral. Minyak pelumas ini berasal dari suatu bahan yang dihasilkan dari pengolahan tersendiri. Pada umumnya pelumas sintetik mempunyai sifat-sifat khusus, seperti daya tahan terhadap suhu tinggi yang lebih baik daripada pelumas mineral atau nabati, daya tahan terhadap asam, dll

  • Berdasarkan viscosity atau kekentalan minyak pelumas yang dinyatakan dalam nomor-nomor SAE (Society of Automotive Engineer). Angka SAE yang lebih besar menunjukkan minyak pelumas yang lebih kental.

§ Oli monograde, yaitu oli yang indeks kekentalannya dinyatakan hanya satu angka.

§ Oli multigrade, yaitu oli yang indeks kekentalannya dinyatakan dalam lebih dari satu angka.

  • Berdasakan penggunaan minyak pelumas (diatur oleh The American Petroleum Institutes Engine Service Classification)

§ Penggunaan minyak pelumas untuk mesin bensin.

§ Penggunaan minyak pelumas untuk mesin diesel.

Karakteristik

Minyak pelumas memiliki ciri-ciri fisik yang penting, antara lain:

  • Viscosity

Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas adalah pengukuran dari mengalirnya bahan cair dari minyak pelumas, dihitung dalam ukuran standard. Makin besar perlawanannya untuk mengalir, berarti makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya.

  • Viscosity Index

Tinggi rendahnya indeks ini menunjukkan ketahanan kekentalan minyak pelumas terhadap perubahan suhu. Makin tinggi angka indeks minyak pelumas, makin kecil perubahan viscosity-nya pada penurunan atau kenaikan suhu. Nilai viscosity index ini dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

§ HVI (High Viscosity Index) di atas 80.

§ MVI (Medium Viscosity Index) 40 – 80.

§ LVI (Low Viscosity Index) di bawah 40.

  • Flash Point

Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah pada waktu minyak pelumas menyala seketika. Pengukuran titik nyala ini menggunakan alat-alat yang standard, tetapi metodenya berlainan tergantung dari produk yang diukur titik nyalanya.

  • Pour Point

Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir dan kemudian menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk minyak pelumas yang dalam pemakaiannya mencapai suhu yang dingin atau bekerja pada lingkungan udara yang dingin.

  • Total Base Number (TBN)

Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas terhadap pengaruh pengasaman, biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil). Setelah minyak pelumas tersebut dipakai dalam jangka waktu tertentu, maka nilai TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau diesel, penurunan TBN ini tidak boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik diganti dengan minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah tidak ada.

  • Carbon Residue

Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan pada suatu tes khusus.

  • Density

Menyatakan berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperatur tertentu.

  • Emulsification dan Demulsibility

Sifat pemisahan oli dengan air. Sifat ini perlu diperhatikan terhadap oli yang kemungkinan bersentuhan dengan air.

Selain ciri-ciri fisik yang penting seperti telah dijelaskan sebelumnya, minyak pelumas juga memiliki sifat-sifat penting, yaitu:

  • Sifat kebasaan (alkalinity)

Untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk karena pengaruh dari luar (gas buang) dan asam-asam yang terbentuk karena terjadinya oksidasi.

  • Sifat detergency dan dispersancy

§ Sifat detergency à Untuk membersihkan saluran-saluran maupun bagian-bagian dari mesin yang dilalui minyak pelumas, sehingga tidak terjadi penyumbatan.

§ Sifat dispersancy à Untuk menjadikan kotoran-kotoran yang dibawa oleh minyak pelumas tidak menjadi mengendap, yang lama-kelamaan dapat menjadi semacam lumpur (sludge). Dengan sifat dispersancy ini, kotoran-kotoran tadi dipecah menjadi partikel-partikel yang cukup halus serta diikat sedemikian rupa sehingga partikel-partikel tadi tetap mengembang di dalam minyak pelumas dan dapat dibawa di dalam peredarannya melalui sistem penyaringan. Partikel yang bisa tersaring oleh filter, akan tertahan dan dapat dibuang sewaktu diadakan pembersihan atau penggantian filter elemennya.

  • Sifat tahan terhadap oksidasi

Untuk mencegah minyak pelumas cepat beroksidasi dengan uap air yang pasti ada di dalam karter, yang pada waktu suhu mesin menjadi dingin akan berubah menjadi embun dan bercampur dengan minyak pelumas. Oksidasi ini akan mengakibatkan minyak pelumas menjadi lebih kental dari yang diharapkan, serta dengan adanya air dan belerang sisa pembakaran maka akan bereaksi menjadi H2SO4 yang sifatnya sangat korosif.

Gemuk Pelumas

Penambahan additive seperti sabun yang dicampur dengan pelumas mineral dapat menghasilkan gemuk lumas. Jenis-jenis sabun tersebut ada beberapa macam, antara lain lithium, calcium, sodium, aluminium, dan ada pula yang bahan dasarnya sintetik.

Gemuk pelumas ini memiliki daya lekat yang baik pada permukaan logam, sehingga dapat melindungi dari pengaruh udara lembab dan air, serta daya tahan terhadap beban kejut pada bantalan.

Gemuk pelumas ini memiliki beberapa sifat-sifat khusus, antara lain:

  • Menyekat kotoran-kotoran yang masuk atau keluar.
  • Tidak terpengaruh oleh temperatur.
  • Sukar mengalir dan menguap.
  • Mencegah masuknya air, dan meskipun ada molekul-molekul air, daya lumas tidak berubah.
  • Mempunyai sifat menahan benturan yang besar.
  • Mempunyai sifat anti korosi dan oksidasi.

 

Berdasarkan sifat-sifat tersebut, gemuk pelumas ini dapat digunakan untuk melumasi bagian-bagian yang tidak dapat dilumasi oleh pelumas cair (oli), seperti:

 

§ Bagian yang mudah terkena debu dan air.

§ Bagian yang tidak rapat.

§ Bagian yang mempunyai tekanan tinggi.

§ Bagian yang sukar dicapai.

 

 

Additive

Kualitas pelumas yang baik tidak hanya didapatkan dengan cara proses pengolahan maupun pemurnian (purifikasi), tetapi perlu ditambahkan bahan-bahan kimia tertentu yang lebih dikenal dengan aditif. Aditif yang ditambahkan ke dalam minyak pelumas bertujuan untuk memperbaiki kualitas minyak pelumas. Penambahan aditif dalam minyak pelumas ini berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi, temperatur, dan kerja dari mesin itu sendiri. Oleh karena itu jenis-jenis minyak pelumas berbeda-beda dapat kita temukan di pasaran.

Penambahan aditif ke dalam minyak pelumas bukan perkara mudah karena minyak pelumas akan bereaksi dengan aditif tersebut, dan juga aditif tersebut akan mempengaruhi aditif lainnya. Oleh karena itu, formulasi penambahan aditif terus dilakukan untuk mendapatkan minyak pelumas kualitas tinggi. Berikut ini adalah jenis-jenis aditif yang biasa digunakan:

  • Deterjen

Merupakan aditif dalam bentuk ikatan kimia yang memberikan kemampuan mengurangi timbulnya deposit dari ruang bakar maupun dari bagian mesin lainnya. Minyak pelumas yang diberi aditif ini bekerja untuk mesin yang beroperasi pada temperatur tinggi. Jenis deterjen yang digunakan adalah sulfonat, fosfonat, dan fenat.

  • Dispersan

Aditif yang bekerja pada temperatur rendah yang berfungsi untuk menghalangi terbentuknya lumpur atau deposit di dalam ruang mesin. Aditif ini cocok digunakan pada mesin-mesin mobil kendaraan pribadi yang sering berhenti dan berjalan.

  • Antioksidan

Karena lingkungan kerja, minyak pelumas sering berhubungan (kontak) dengan udara luar pada temperatur dan kondisi kerja tinggi. Minyak pelumas juga kontak dengan logam atau bahan kimia yang bersifat sebagai katalisator oksidasi. Karena hal di atas, minyak pelumas akan mengalami sederetan reaksi oksidasi yang dapat menurunkan viskositas minyak pelumas.

Untuk itu, antioksidan diberikan untuk mengurangi peroksida. Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah sulfida, fosfit, disulfida, selenida dan zink ditiofosfat.

  • Pelindung Korosi

Berfungsi untuk melindungi bahan-bahan non logam yang mudah terkena korosi dalam mesin, terutama bantalan yang perlu tahan terhadap kontaminasi asam dari minyak pelumas. Kontaminasi ini terjadi sebagai hasil oksidasi minyak pelumas dan hasil pembakaran bahan bakar yang merembes melalui cincin piston.

Pelumas

 

Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi yang memiliki suhu 105-135 derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam.

 

A. Fungsi dan tujuan pelumasan

Pada berbagai jenis mesin dan peralatan yang sedang bergerak, akan terjadi peristiwa pergesekan antara logam. Oleh karena itu akan terjadi peristiwa pelepasan partikel partikel dari pergesekan tersebut. Keadaan dimana logam melepaskan partikel disebut aus atau keausan. Untuk mencegah atau mengurangi keausan yang lebih parah yaitu memperlancar kerja mesin dan memperpanjang usia dari mesin dan peralatan itu sendiri, maka bagian bagian logam dan peralatan yang mengalami gesekan tersebut diberi perlindungan ekstra.

1. Tugas pokok pelumas

Pada dasarnya yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan permukaan logam lain terus menerus bergerak. Selain keausan dapat dikurangi, permukaan logam yang terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang diperlukan akibat terserap gesekan, dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan berkurang.

2. Tugas tambahan pelumas

Selain mempunyai tugas pokok, pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas. Pada mesin mesin dengan kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan bantalan sebagai akibat dari adanya gesekan yang banyak. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu mesin.

Suhu yang tinggi akan merusak daya lumas. Apabila daya lumas berkurang, maka maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang timbul akan semakin banyak sehingga suhu terus bertambah. Akibatnya pada bantalan bantalan tersebut akan terjadi kemacetan yang secara otomatis mesin akan berhenti secara mendadak. Oleh karena itu, mesin mesin dengan kecepatan tinggi digunakan pelumas yang titik cairnya tinggi, sehingga walaupun pada suhu yang tinggi pelumas tersebut tetap stabil dan dapat melakukan pelumasan dengan baik.

B. Jenis jenis pelumas

Terdapat berbagai jenis minyak pelumas. Jenis jenis minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan.

1. Dilihat dari bentuk fisiknya :

a. Minyak pelumas b. Gemuk pelumas c. Cairan pelumas

2. Dilihat dari bahan dasarnya :

a. Pelumas dari bahan nabati b. Pelumas dari bahan hewani c. Pelumas sintetis

3. Dilihat dari penggunaannya :

a. Pelumas kendaraan b. Pelumas industri c. Pelumas perkapalan d. Pelumas penerbangan

4. Dilihat dari pengaturannya :

i. Pelumas kendaraan bermotor :

1. Minyak pelumas motor kendaraan baik motor bensin / Diesel 2. Minyak pelumas untuk transmisi 3. Automatic transmission fluid & hydraulic fluid

ii. Pelumas motor diesel untuk industri :

1. Motor diesel berputar cepat 2. Motor diesel berputar sedang 3. Motor diesel berputar lambat

iii. Pelumas untuk motor mesin 2 langkah :

1. Untuk kendaraan bermotor 2. Untuk perahu motor 3. Lain lain ( gergaji mesin, mesin pemotong rumput )

iv. Pelumas khusus

Jenis pelumas ini banyak ragamnya yang penggunaannya sangat spesifik untuk setiap jenis, di antaranya adalah untuk senjata api, mesin mobil balap, peredam kejut, pelumas rem, pelumas anti karat, dan lain-lain.

C. Penggunaan pelumas

Untuk memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan jenis pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat fatal.

1. Hal hal yang perlu diperhatikan :

a. Rekomendasi pabrik pembuat mesin

Biasanya pabrik pembuat mesin seperti pabrik kendaraan bermotor dan pabrik mesin mesin industri memberi petunjuk jenis pelumas yang direkomendasikan untuk digunakan. Petunjuk ini sangat terperinci sedemikian rupa bagi pelumasan masing masing bagian dalam jangka waktu tertentu.

b. Bahan bakar yang digunakan

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelumasan untuk mesin dengan bahan bakar bensin berbeda dengan pelumasan untuk mesin berbahan bakar solar atau gas.Apabila tidak ada ketentuan ukuran atau aturan penggunaan pelumas oleh pembuat mesin, maka anjuran dalam penggunaan pelumas biasanya dilaksanakan oleh para teknisi pabrik dengan melihat pada :

– Data teknis dari mesin – Pengetahuan tentang pelumasan dari para teknisi – Pengalaman dari para teknisi

c. Perkembangan teknis pelumas

Hasil kemajuan yang dicapai di bidang pelumas ini, pada dasarnya adalah hasil kerjasama antara pabrik pembuat mesin, pembuat pelumas, dan pembuat bahan bahan tambahan ( additif ). Walaupun terdapat beragam pelumas berkualitas tinggi, namun pada intinya yang menentukan mutu dan daya guna suatu pelumas terdiri dari 3 faktor :

1. Bahan dasar ( based oil ). 2. Teknik dan pengolahan bahan dasar dalam pembuatan pelumas. 3. Bahan bahan additif yang digunakan atau dicampurkan kedalam bahan dasar untuk mengembangkan sifat tertentu guna tujuan tertentu.

Sebenarnya base oil mempunyai segala kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam pelumasan. Tanpa aditifpun, sebenarnya minyak dasar sudah mampu menjalankan tugas-tugas pelumasan. Namun unjuk kerjanya belum begitu sempurna dan tidak dapat digunakan dalam waktu lama.

ISTILAH-ISTILAH PADA MINYAK PELUMAS

Istilah-istilah teknis tentang minyak pelumas sering dianggap remeh, padahal dengan mengatahui istilah-istilah yang ada pada pelumas, maka kita akan tahu persis baik tidaknya atau tepat tidaknya penggunaan suatu pelumas :

1. Viscosity; adalah kekentalan suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan bergerak atau daya tolak suatu pelumas untuk mengalir. Pada temperatur normal, pelumas dengan viscosity rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas dengan viscosity tinggi. Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas dengan viscosity rendah yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi operasi tinggi dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi

2. Viscosity Index (Indeks viskositas); merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas ddikarenakan adanay perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka akan semakin kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun terjadi perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100, sedang yang premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250.

3. Flash point; titik nyala suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu pelumas dimana pada kondisi temperatur tsb akan dikeluarkan uap air yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.

4. Fire point; adalah menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan dan terus menyala sekurang-kurangnya selama 5 detik.

5. Pour point; merupakan titik tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti engalir dengan leluasa.

6. Cloud point; keadaan dimana pada temperatur tertentu maka lilin yang larut di dalam minyak pelumas akan mulai membeku..

7. Aniline point; merupakan pentunjuk bahwa minyak pelumas tertentu sesuai sifat-sifatnya dengan sifat-sifat karet yang digunakan sebagai seal dan slang. Hal ini ditetapkan sebagai temperatur dimana volume yang sama atau seimbang dari minyak pelumas adan aniline dapat dicampur

8. Neutralisation Number or Acidity; merupakan ukuran dari alkali yang diperlukan untuk menetralisir suatu minyak Makin tinggi angka netralissasi maka akan semakin banyak asam yang ada. Minyak yang masih baru tidak mengandung asam bebas dan acidity numbernya dapat kurang atau sama dengan 0,1. Sedangkan pelumas bekas, akan mengandung acidity number yang lebih tinggi.

9. Ash; Apabila pelumas habis terbakar maka akan terbentuk abu (ash) atau abu sulfat. Hal ini berhubungan dengan pengukuran kemurnian suatu pelumas. (dari berbagai sumber : by irf/lumasmultisarana/2010)

Rahasia dibalik Kode SAE Oli Motor | Pelumas Motor

Kode SAE Oli Motor | Pelumas Motor.  Kekentalan Oli Pelumas adalah hal paling menentukan saat memilih Oli Motor, Kekentalan Oli Pelumas merupakan salah satu sifat karakteristik fisik oli mesin yang sangat penting. Dalam istilah oli mesin kekentalan biasa dikenal sebagai viskositas. Sebelumnya ada baiknya jika kita membahas sedikit teori Oli Pelumas, sebelum memilih Oli Pelumasberdasarkan Kode SAE Oli Motor.

SAE

SAE (Society of Automotive Engineer) adalah  lembaga standarisasi seperti ISO, DIN atau JIS, yang mengkhususkan diri di bidang otomotif.

 

Viscosity

Viskositi adalah kemampuan laju liquid dalam hal ini mungkin Oli Pelumas. untuk Oli Pelumas Otomotif kita kenal dengan lube oil grade,  yang kemudian oleh SAE di uji pada temp tertentu shingga kita mengenal oli multi grade 10W40, 20W50 dsb serta oli mono grade seperti SAE 20, 40 dsb

Ini berbeda dengan pengujian Oli Pelumas Industri.  pengujian dilakukan oleh ISO, shingga kita mengenal istilah lubrcant ISO VG 32, 46, 100, 680, 100, dsb. Dimana ISO melakukan standar pengujian pada 40 deg C dan 100 deg C.. atau mungkin untuk applikasi gear oil digunakan standar AGMA atau SAE gear viscosity..

Viscosity Index

Sedangkan Viscosity Index (VI) adalah kemampuan lubricant mempertahankan kekentalannya terhadap temperature, baik itu hi or low temp, smakin tinggi nilai VI smakin baik lubricant itu tahan terhadap perubahan temperature

Setelah bicara sedikit teknis, sekarang kita lanjutkan pada rahasia kode SAE Oli Pelumas Motor kita :

  • Tingkat kekentalan suatu oli mesin mengacu pada lembaga SAE berdasarkan table SAE J 300 th 1999.
  • Ada sekitar 30 jenis kekentalan SAE yg dikenal selama ini, diantaranya seperti SAE SAE 40, SAE 10w, SAE 20w50,SAE 15w50,SAE 10w40,SAE 15w40 dst.

Angka di belakang huruf SAE inilah yang menunjukkan tingkat kekentalannya (viskositas). Contohnya, kode SAE 50 menunjukkan oli tersebut mempunyai tingkat kekentalan 50 menurut standar SAE. Semakin tinggi angkanya, semakin kental pelumas tersebut.

Ada pula kode angka yang menunjukkan multi grade seperti 10W-50. Kode ini menandakan pelumas mempunyai kekentalan yang dapat berubah-ubah sesuai suhu di sekitarnya. Huruf W di belakang angka 10 merupakan singkatan kata winter (musim dingin). Maksudnya, pelumas mempunyai tingkat kekentalan sama dengan SAE 10 pada saat suhu udara dingin dan SAE 50 ketika udara panas.

Pertanyaan :

  • Lalu Oli ber SAE manakah yang cocok untuk Motor Kita ? SAE20w50,10w40,15w40 atau 15w50?
  • Benarkah kalau “tarikan enteng”pake oli encer, menandakan oli yg dipake cocok utk motor Kita?

Mari kita cari jawabannya, Kita akan coba membahas beberapa kode SAE untuk mendapatkan Oli Pelumas yang ideal untuk motor kita, kita akan bahas satu-persatu dari 4 tingkat SAE Oli Pelumas motor yang paling cocok untuk iklim Indonesia

Performa mesin dan hasil pengujian,idealnya dapat dibagi 4 jenis yaitu: SAE 20w50, 10w40, 15w40, atau 15w50.

Rahasia dibalik Kode SAE Oli Motor | Pelumas Motor

SAE 20w50
Makna sesungguhnya : oli mesin yg masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -10 sd -15 C (kode 20w) dan pd suhu 150 c dg tk.kekentalan tertentu .
Oli jenis ini relative kurang efisien dalm pemakain BBM namun sangat baik dlm perlindungan /perawatan mesin, khususnya utk kondisi jalan di Jakarta yg sering macet, jarang brjalan jauh ,polusi dan beban berat.

Pd kondisi ini dikenal dg istilah “boundary lubrication”, dimana pada kondisi tsb. lapisan oli sangat tipis diantara celah mesin yg cenderung berpotensi terjadinya kontak antara logam dg logam.Oli jenis ini relative paling kecil nilai viskositas indeksnya (VI), diantara 3 jenis oli lainnya (minimal utk.oli mineral/semi sintetis 120, utk. sintetis 145) .
Semakin banyak aditiv viscosity index improver ,semakin sensitif oli /kurang baik buat mesin motor -utamanya terhadap stress di gear.  VI= ukuran kemampuan suatu oli mesin dalam menjaga kestabilan kekentalan oli mesin dalam rentang suhu dingan sampai tinggi. Semakin tinggi VI semakin baik kestabilan kekentalannya.Utk oli mobil, VI tinggi akan sangat baik dimesin. Utk motor bisa sebaliknya.

SAE 15w50
Type Oli pelumas mesin ini, masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin (minus) -15 sd -20 C (kode 15w) dan suhu 150 c dg tk.kekentalan tertentu  .Jenis oli relative sama dg SAE20w50.Sedikit yg membedakan adalah sedikit lebih encer dan nilai VI lebih tinggi dari 20w50. (minimal utk.oli mineral 130, utk. sintetis 150)

Semakin tinggi nilai VI artinya adlah semakin banyak pemakaian aditif peningkat angka VI. Utk motor hal ini sangat riskan. Aditif ini relative sensitif digunakan utk motor yg menyatukan oli mesin dan gigi (wet clutch).Artinya oli jenis ini relative lebih mudah berubah kekentalannya dibandingkan 20w50.

SAE 10w40
Type Oli pelumas mesin ini, masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -20 sd -25 C (kode 10w) dan suhu 150 C dg tk.kekentalan tertentu .Jenis Oli yg relative paling encer diantaranya ke3 jenis oli lainnya. Oli ini relative paling irit BBM, namun kurang baik dalam perlindungan mesin .Terutama pada kondisi jalan sering macet dan beban berat.(mis.sering dipake boncengan)Relatif sama dg SAE 15w50 , dalam hal pemakaian aditif peningkat angka VI. (minimal utk.oli mineral 130, utk.sintetis 150)

Apakah berarti paling bagus?Belum tentu …!Semakin banyak kandungan aditif peningkat angka VI , semakin besar kemungkinan peluang pecahnya aditif VI-nya dan berubah kekentalannya.
Ukuran perubahan kekentalan oli biasanya dipakai batasan sampai 25-30% dari kekentalan awal /oli baru. Agak sulit memang indikatornya soalnya Cuma lab.yg bisa memastikan hal ini.
Kalaupun Anda ingin tetap memakai oli jenis ini, saran saya , perhatikan jarak pergantian olinya lebih awal.Kalau Anda merasa suara mesin sdh agak berbeda sedikit aja..cepet2 ganti dah

SAE 15w40
Type Oli pelumas mesin ini, masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -15 sd -20 C (kode 15w) dan suhu 150 C dg tk.kekentalan tertentu .Nilai VI ,minimal utk.oli mineral 125, utk. sintetis 145.

Hasil pengujian di motor sebenarnya menunjukkan oli jenis ini yg paling pas.Oli jenis ini relative paling stabil kekentalannya dibandingkan yg lainnya.Masalhnya oli jens ini jarang diaplikasikan utk motor.Biasanya jenis SAE ini, dipakai utk kendaraan jenis mesin disel, yg membutuhkan kestabilan kekekntalan dalam jarak jauh dan kondisi ekstrim pada mesin disel.sebagai tambahan aditif Vi adalah seny.kimia kopolimer -rantai panjang- yg mampu  beradaptasi pd suhu rendah dan tinggi ttpi sensitif

thd. stress di gear..
Perlu diingat oleh para Bikers, Bahwa kekentalan atau SAE Oli Pelumas bukan merupakan satu-satunya penentu kualitas oli pelumas.

Tingkat mutu pelumas mengacu pada API (American Petroleum Institute). Untuk kendaraan yang berbahan bakar bensin, pelumas bisanya menggunakan kode yang berawalan huruf S (kependekan dari kata Spark yang berarti percikan api/busi), contohnya seperti kode SA, SB, SC, SD, SE dan SF. Sedangkan pada mesin diesel, kode mutu pelumas mesinnya diawali huruf C (kependekan dari kata compression, yang mana sifat pembakaran dalam diesel  terjadi karena adanya tekanan udara sangat tinggi), contohnya kode huruf CA, CB, CC, dan CD.

Pelumas Brand BP

Minyak Pelumas Brand BP

TRANSMISSION OILS and FLUIDS

1 AUTRAN GM-MP.
2 HYPOGEAR 90 EP.
3 HYPOGEAR 140 EP
4 HYPOGEAR 80W-90EP GL5
5 HYPOGEAR 85W-140EP GL5.
6 TERRAC SUPER

TRANSMISION 9

HYDRAULIC OILS.

7 BARTRAN HV 32, 46, 68
8 ENERGOL HLP 32, 46, 68, 100
9 ENERGOL HLP 150
10 ENERSYN SF-C 15

METAL WORKING FLUID

11 CILORA 123
12 CILORA 211
13 ENERGOL GF 720

MORGOIL BEARING OILS

14 ENERGOL MGX 88
15 ENERGOL MGX 220
16 ENERGOL MGX 320
17 ENERGOL MGX 460

SPECIALTIES OILS

18 ENERGOL GR 3000-2
19 ENERGOL RD-E 100
20 ENERGOL WM 2
21 ENERGOL WM 4
22 ENERGOL WM 6
23 MACCURAT D 68
24 MACCURAT D 220
25 TRANSCAL N

INDUSTRIAL GEAR OILS

26 ENERGEAR LIMSLIP 90
27 ENERGOL GR-XP 68
28 ENERGOL GR-XP 100
29 ENERGOL GR-XP 150
30 ENERGOL GR-XP 220
31 ENERGOL GR-XP 320
32 E-XP 320
43 ENERSYN SG-XP 460

CIRCNERGOL GR-XP 460

33 ENERGOL GR-XP 680
34 ENERGOL GR-XP 1000

SYNTHETIC GEAR OILS

35 ENERSYN HTX 68
36 ENERSYN HTX 150
37 ENERSYN HTX 220
38 ENERSYN HTX 320
39 ENERSYN HTX 460
40 ENERSYN EPX 680
41 ENERSYN SG-XP 220
42 ENERSYN SGULATING OILS
44 SPEMO HB 680

COMPRESSOR OILS

45 ENERGOL LPT 15, 32, 68
46 ENERGOL RC 68
47 ENERGOL RC 100
48 ENERGOL RC 150
49 ENERGOL RC-R 4000 – 32, 46, 68

SYNTHETIC COMPRESSOR OILS

50 ENERSYN LPS 46
51 ENERSYN LPS-PO 68
52 ENERSYN RC-S 32
53 ENERSYN RC-S 46
54 ENERSYN RC-S 68

TURBINE OILS

55 ENERGOL THB 32, 46, 68
56 ENERGOL THB 100
57 TURBINOL X 46

ENGINE OILS

58 VANELLUS C3 30 CF/ SF
59 VANELLUS C3 40 CF/ SF
60 VANELLUS V3 EXTRA CH-4

GREASES

61 ENERGREASE HTG 2
62 ENERGREASE L 21 M
63 ENERGREASE LC 2
64 ENERGREASE LS 2
65 ENERGREASE LS 3
66 ENERGREASE LS EP 0
67 ENERGREASE LS EP 1, 2
68 MINE GREASE LM EP 680

FOR INFO PLEASE CONTACT :

Anto

0812 84 888 411

marketing manager.

Anto

e- mail :

antodutapertiwi@ yahoo.co.id

pelumas brand Gulf

Minyak pelumas Brand Gulf

GULF SUPER FLEET SPECIAL AP CI 4, SAE 15W- 40

GULF SUPER FLEET SPECIAL AP CI 4, SAE 15W- 40

GULF SUPER FLEET SPECIAL AP CH 4, SAE 15W- 40.

GULF SUPER FLEET SPECIAL AP CH 4, SAE 15W- 40

GULF SUPER DIESEL PLUS API CF4 SAE 15W- 40.

GULF SUPER DIESEL PLUS API CF4 SAE 15W- 40.

GULF SUPER DUTY MOTOR API CF4 SAE 15W- 40.

GULF SUPER DUTY PLUS SAE 30 API CF.

GULF SUPER DUTY PLUS SAE 40 API CF.

GULF SUPER DUTY PLUS SAE 40 API CF.

GULF SUPER DUTY PLUS 50, CE.

AUTOMATIC GEAR & TRANSMISSION FLUIDS.

GULF ATX DX 3.

GULF ATX DX 3.
GULF GEAR MP 90, GL- 5.
GULF GEAR MP 90, GL- 5.
GULF GEAR MP 140, GL- 5
GULF GEAR MP 140, GL- 5.
GULF GEAR MP API GL- 5,

SAE 80 W 90.

GULF GEAR MP API GL- 5, SAE 80 W 90.

GULF GEAR MP API GL- 5, SAE 80 W 140.

GULF GEAR MP API GL- 5, SAE 80 W 140

TURBIN & HYDRAULICS OIL

GULF HARMONY ISO VG 32.
GULF HARMONY ISO VG 46.
GULF HARMONY ISO VG 68

GULF HARMONY ISO VG 100
GULF HARMONY AW ISO VG 32.
GULF HARMONY AW ISO VG 32
GULF HARMONY AW ISO VG 46
GULF HARMONY AW ISO VG 46
GULF HARMONY AW ISO VG 68
GULF HARMONY AW ISO VG 68
GULF HARMONY AW ISO VG 100
GULF HARMONY HV ISO VG 46

GULF HARMONY HV ISO VG 68
GULF CREST 32, DIN 51515, BS 489
GULF CREST 46, DIN 51515, BS 489
GULF CREST 68, DIN 51515, BS 489

INDUSTRIAL GEAR OIL

GULF EP LUBRICANTS HD 100
GULF EP LUBRICANTS HD 150
GULF EP LUBRICANTS HD 220
GULF EP LUBRICANTS HD 100
GULF EP LUBRICANTS HD 150
GULF EP LUBRICANTS HD 220
GULF EP LUBRICANTS HD 320
GULF EP LUBRICANTS HD 460
GULF EP LUBRICANTS HD 320
GULF EP LUBRICANTS HD 460
GULF EP LUBRICANTS HD 680

COMPRESOR & REFRIGERATION OILS

GULF ESKIMO 32
GULF ESKIMO 46
GULF ESKIMO 68
GULF COMPRESSOR OIL 32
GULF COMPRESSOR OIL 32
GULF COMPRESSOR OIL 68
GULF COMPRESSOR OIL 68
GULF COMPRESSOR OIL S 46
GULF COMPRESSOR OIL S 46
GULF COMPRESSOR OIL S 100

MARINE & RAILROAD PRODUCT

GULFMAR SELECT 420
GULFMAR SELECT 430
GULFMAR SELECT 440
GULFMAR DPO 412

PROCESSIG OIL :

GULF WAY 68, ISO VG 68
GULF WAY 220, ISO VG 220
GULF THERM 32, ISO VG 32
GULF THERM 46, ISO VG 46
GULF ROCK DRILL 100
GULF ROCK DRILL 150
GULF ROCK DRILL 220
GULF ROCK DRILL 320

GULF SOLUBLE CUTTING DRILL OIL
GREASE

GULF CHASSIS GREASE # 2
GULF CHASSIS GREASE # 2
GULF CROWN GREASE # 2
GULF CROWN GREASE # 2
GULF CROWN GREASE # 3
GULF CROWN GREASE # 3
GULF CROWN EP GREASE # 0
GULF CROWN EP GREASE # 0
GULF CROWN EP GREASE # 1
GULF CROWN EP GREASE # 2
GULF CROWN EP GREASE # 2
GULF CROWN EP GREASE # 3
GULF CROWN EP GREASE # 3
GULF CROWN LC 2
GULF CROWN LC 2
GULF CROWN LC 3
GULF CROWN LC 3
GULF CROWN HT GREASE # 2
GULF CROWN HT GREASE # 2
GULF FLEX MOLY EP 2
GULF FLEX MOLY EP 2
GULF CROWN CS 2
GULF CROWN CS 2
TRANSFORMER OIL
TRANSFORMER OIL A

TERSEDIA JUGA UNTUK OLI :

ENGINE OIL

GEARBOX OIL

HYDRAULIC OIL

ADDITIVE DAN OTHER

GREASES

FOR INFO PLEASE CONTACT :

Anto

0812 84 888 411

marketing manager

Anto

e- mail :

antodutapertiwi@ yahoo.co.id

Pelumas Brand Pertamina

Pelumas Brand Pertamina

MESRAN 10W, 20W

MESRAN 30

MESRAN 40, 50

MESRAN SUPER 20W- 50.

MESRAN PRIMA XP 20W- 50.

MESRAN B 30, 40, 50.

MESRANIA 2T 0B.

MESRANIA 2T SUPER.

RORED EP- A 90.

RORED EP- A 140.

RORED HD- A 90.

RORED HD- A 140.

RORED MTF 80W- 90.

GANDAR 800.

KOMPEN 15, 32.

KOMPEN 46, 68, 100.

MEDITRAN 30.

MEDITRAN 40.

MEDITRAN 50.

MEDITRAN P 10W.

MEDITRAN P 30, P 40

MEDITRAN P 50.

MEDITRAN S 10W.

MEDITRAN S 30.

MEDITRAN S 40.

MEDITRAN S 50.

MEDITRAN SC 15W- 40.

MEDITRAN SX 15W- 40.

MEDITRAN SX 15W- 40 CI 4.

MEDITRAN SX 15W- 40 CI 4 PLUS.

MEDITRAN SMX 40.

MEDRIPAL 3, 4, 5

MEDRIPAL 2

MEDRIPAL 6

MEDRIPAL 308, 408

MEDRIPAL 311, 411

MEDRIPAL 312, 412, 512

MEDRIPAL 320, 420.

MEDRIPAL 330, 430

MEDRIPAL 340

MEDRIPAL 440

MEDRIPAL 540

MEDRIPAL 570

SEBANA P 9

SEBANA P 22, P 32, P 46

SEBANA P 68, P 100

SEBANA P 150

SEBANA P 220/ 320

SEBANA P 460

Dll.

FOR IINFO PLEASE CONTACT :

Anto

0812 84 888 411

marketing manager

Anto

e- mail :

antodutapertiwi@ yahoo.co.id
smu.lubrindo@yahoo.com

Minyak Pelumas Brand Shell

Pelumas Brand Shell

DIESEL ENGINE OIL.

1 SHELL ALEXIA 50
2 SHELL ARGINA S 30/ S 40
3 SHELL ARGINA T 30/ T 40.
4 SHELL ARGINA X 40
5 SHELL ARGINA XL 40
6 SHELL GADINIA 30/ 40
7 SHELL MELINA 30/ 40
8 SHELL CAPRINUS HD 40

HIDRAULIC OIL.

1 SHELL TELLUS 32/ 46/ 68/ 100
2 SHELL TELLUS T 32/ T 46/ T 68
3 SHELL MORLINA 10/ 22/ 32
4 SHELL MORLINA 100/ 50/ 220/ 320
5 SHELL MORLINA T 100
6 SHELL MORLINA T 460

GEAR AND BEARING OIL

1 SHELL OMALA 68/ 100/ 150/ 220
2 SHELL OMALA 320/ 460/ 680
3 SHELL OMALA 1000
4.SHELL OMALA F 220/ F 320/ F 160
5.SHELL OMALA HD 220/ 320/ 460/ 680
6 SHELL VALVATA J 46 C
7 SHELL CARDIUM COMPOUND 200
8 SHELL TIVELA S 220/ S 320

COMPRESSOR OIL.

1 SHELL CORENA AS 32/ AS 46
2 SHELL CORENA AS 68
3 SHELL CORENA P 68/ P 100
4 SHELL CORENA P 150
5 SHELL CORENA S 46/ 68
6 SHELL CLAVUS 32/ 46/ 68
7 SHELL CLAVUS G 68
8 SHELLL CLAVUS AB 68

HEAT TRANSFER OIL

1 SHELL THERMIA B

CUTING MESIN OIL

1 SHELL DROMUS B
2 SHELL TONNA T 32/ T 68
3 SHELL TONNA T 220

TURBIN OIL

1 SHELL TURBO T 32, 46, 68
2 SHELL TURBO T 32
3 SHELL TURBO N. 32
4 SHELL TURBO CC 46
5 SHELL GT EP 32
6 SHELL MYSELLA R30, R40
7 SHELL MYSELLA LA 40

GREASES.

1 SHELL ALBIDA EP 2
2 SHELL ALBIDA HD X 3
3 SHELL ALBIDA MDX 2
4 SHELL ALVANIA EP ( LP) 0
5 SHELL ALVANIA EP ( LP) 1
6 SHELL ALVANIA EP ( LP) 2
7 SHELL ALVANIA RL 2/ RL 3
8 SHELL DARINA R2
9 SHELL MALLEUS GL 400/ 500
10 SHELL MALLEUS OGH

ELECTRIC OIL

1 SHELL DIALLA B

PNEMUATIC OIL

1 SHELL TORCULA 100

SMALL PACK ( PAIL) GEAR & BEARING OIL ( PAIL)

1 SHELL TIVELA S 150/ S 220

COMPRESSOR OIL ( PAIL)

1 SHELL CORENA AP 100
2 SHELL CORENA AS 32/ 66
3 SHELL CORENA P 68/ P 100
4 SHELL CORENA S 6B

GREASE ( PAIL)

1 SHELL ALBIDA PPS GRS
2 SHELL ALVANIA EP ( LF) 1
3 SHELL ALVANIA EP ( LF) 2
4 SHELL ALVANIA RL 2/ RL 3
5 SHELL STAMINA RL 2
6 SHELL STAMINA RL 2 ( 045 X 12)
7 SHELL MALLEUS E12
8 SHELL TIVELA GL 00

FOOD GRADE ( FAIL)

1 SHELL CASSIDA HF 45
2 SHELL CASSIDA HF 68
3 SHELL CASSIDA GL 220
4 SHELL CASSIDA CR 40
5 SHELL CASSIDA DC 30
6 SHELL CASSIDA VP 100
7 SHELL CASSIDA GREASE RLS 0
8 SHELL CASSIDA GREASE RLS 2
9 SHELL CASSIDA GREASE HDS 2
10 SHELL CASSIDA GREASE HDS 2
11 SHELL FM GEAR OIL 220
12 SHELL FM HYDRAULIC 46
13 SHELL FM HYDRAULIC 66
14 SHELL FM HEAT TRANSFER 01

TRANSPORT PRODUCT DIESEL ENGINE OIL

1 SHELL RIMULA R2 10W ( CF/ TBN10 ex. D10W)
2 SHELL RIMULA R2 30( CF/ TBN10) ex. D30

3 SHELL RIMULA R2 40( CF/ TBN10) ex. D40

4 SHELL RIMULA R2 50( CF/ TBN40) ex. D50

5 SHELL RIMULA R2 EXTRA

15W- 40( CF) ex. 15W- 40

6 SHELL RIMULA R3 40 ( CF) ex. 40
7 SHELL RIMULA R3 X 15W- 40 ( CH4) ex. 15W- 40

8 SHELL RIMULA R4 15W- 40 ( CI- 4/ DH1) ex. SPR 15W- 40

9 SHELL RIMULA R3 MV 15W- 40 ex. MV 15W- 40

10 SHELL ROTELLA DD 40

GEAR OIL

1 SHELL SPIRAX G 80W- 90 ( GL- 4)

2 SHELL SPIRAX G 90
3 SHELL SPIRAX A 85W- 140 ( GL- 5)
4 SHELL SPIRAX A 90( GL- 5)
5 SHELL SPIRAX A 140 ( GL- 5)
6 SHELL SPIRAX 80W 90

GREASES

1 SHELL RETINAX EP 2
2 SHELL RETINAX LX 3

SPECIALTY

1 SHELL DONAX TX
2 SHELL DONAX TC 30
3 SHELL DONAX TC 50
4 SHELL DONAX TC 60
5 SHELL DT 10W- 30
6 SHELL TEQUILA V 32

DIESEL ENGINE OIL ( PAIL)

1 SHELL REMULA R3 X 15W- 40 ( CH- 4) ex. X 15W- 40

GEAR OIL ( PAIL)

1 SHELL SPIRAX G 80W- 90
2 SHELL SPIRAX G 90
3 SHELL SPIRAX A 85 W- 40
4 SHELL SPIRAX A 90
5 SHELL SPIRAX A 140

GREASE ( PAIL)

1 SHELL RETINAX EP 2
2 SHELL RETINAX LX 3

DIESEL ENGINE OIL ( BULK)

1 SHELL RIMULA R2 10W ( CF/ TBN10) ex. D10W

2 SHELL RIMULA R2 30( CF/ TBN10) ex. D30

3 SHELL RIMULA R2 30( CF/ TBN10) ex. D30

4 SHELL RIMULA R2 40( CF/ TBN10) ex. D40

5 SHELL RIMULA R3 MV 15W- 40 ex. MV 15W- 40

6 SHELL RIMULA R3 MV 15W- 40 ex. MV 15W- 40

GEAR OIL ( BULK)

1 SHELL SPIRAX A 90
2 SHELL SPIRAX A 80W- 90
3 SHELL SPIRAX A 85W- 140 ( GL- 5)
4 SHELL SPIRAX A 40

SPECIALITY ( BULK)

1 SHELL DONAX TX
2 SHELL DONAX TC 60
3 SHELL DONAX TC 60
4 SHELL DONAX TC 30
5 SHELL DONAX TC 50

for imformation please call

FOR IINFO PLEASE CONTACT :

Anto

0812 84 888 411

marketing manager

Anto

e- mail :

antodutapertiwi@ yahoo.co.id